Kaldera puncak Slamet dari Baturraden Menurut buku tulisan J. Noorduyn yang berjudul Three Old Sundanese Poe...

Pendakian Gunung Slamet via Baturraden-Guci



Kaldera puncak Slamet dari Baturraden

Menurut buku tulisan J. Noorduyn yang berjudul Three Old Sundanese Poems, terbitan KILTV Leiden tahun 2006, nama “Slamet” relatif baru. Nama itu baru ada setelah masuknya Islam ke Jawa. Dan merujuk pada naskah kuno Sunda Bujangga manik, Noorduyn menuliskan bahwa nama lama dari gunung ini adalah gunung Agung.[1]
Gunung Slamet adalah gunung yang berada di antara kabupaten Purbalingga, Tegal, Brebes, Pemalang, dan Banyumas. Tepatnya di sebelah barat kota Purbalingga dan sebelah utara kota Purwokerto. Tinggi gunung ini mencapai 3428 mdpl dan termasuk gunung berapi tertinggi kedua di Jawa dengan memiliki empat buah kawah aktif yang terletak di puncaknya, sehingga dianjurkan untuk mendaki puncak sebelum pukul 10 pagi untuk menghindari adanya gas beracun.[2] Dari puncak Slamet dapat terlihat gunung-gunung lainnya di Jawa Tengah seperti gunung Sumbing, Sindoro, Merbabu, Merapi, bahkan jika cuaca sedang cerah bisa melihat gunung Lawu. Pada bulan-bulan tertentu cuaca di gunung ini sangat ekstrim dan seringkali terjadi badai pada puncaknya, suhu udara turun dengan drastis. Untuk mengantisipasinya jangan lupa membawa baju hangat, jas hujan dan kantung tidur agar tidak terkena hipotermia jika ingin mendaki gunung ini. Sebagian jalur pendakian amat curam dan pada musim hujan, jalur pendakian menjadi semakin berat karena jalur tersebut terisi oleh air sehingga menjadi becek dan licin.



Sebagai gunung api muda tipe strato, gunung Slamet tidak memiliki sejarah letusan dahsyat seperti halnya gunung-gunung api yang berdekatan, yaitu G.Papandayan, G. Galunggung, dan Dieng. Ini bisa dilihat dari tingginya gunung, rupabumi yang relatif masih berbentuk kerucut utuh, dan tak adanya tanda-tanda sisa letusan dahsyat  seperti kaldera, kaldera tapal kuda ataupun runtuhnya (longsornya) salah satu sayap gunung api tersebut.
Gunung Slamet meletus umumnya hanya pada skala kecil yaitu VEI 1. Sebagai catatan sejak tahun 1722 M. letusannya yang terbesar hanya memiliki skala VEI 2 dengan semburan asap maksimum >5 km. volume material letusan >1 juta m3, dan dampak letusan hanya sampai di kaki gunung. Jadi, jika gunung Slamet meletus, maka sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan.
Sebagian masyarakat Jawa mempercayai bahwa gunung Slamet adalah pusat dari pulau Jawa. Mereka juga menyebut gunung ini dengan nama gunung Lanang. Bahkan mereka juga percaya bahwa gunung ini adalah gunung yang angker, yang banyak didiami oleh makhluk halus. Terlepas dari mitos dan kepercayaan yang ada, gunung ini merupakan gunung yang indah, terutama di Plawangan, yaitu daerah sebelum puncak (batas vegetasi).
Ada beberapa pintu masuk untuk mendaki gunung ini yaitu melalui jalur Bambangan (Purbalingga), Baturraden (Purwokerto), Kali Wadas (Bumiayu), Guci (Tegal), dan Gambuhan (Pemalang). Tapi jalur yang resmi adalah melalui Bambangan, jalur alternatif selain Bambangan biasanya melalui Jalur Guci atau Baturraden. Dari pengalaman di tanah tertinggi Jawa Tengah ini, saya akan membagikan sepenggal kenangan yang susah jika semuanya digambarkan dalam goresan pena.... :D

Hari itu, puasa pertama Ramadhan 1433 H atau Rabu 03 Agustus 2011. kami bersembilan dari Angkatan ke-16 MOKSA RAVINE mapala Specta IAIN Surakarta ngadain rapat terakhir untuk membahas pendakian gunung Slamet via jalur Baturraden. setelah sepakat, kami berangkat hari Jum'at 05 Agustus 2011.
Jum’at, 05 Agustus 2011
Pukul 13.20 wib
Kami semua sudah selesai packing dan berkumpul di Base Camp SPECTA dan akan menjalani upacara pemberangkatan. Setelah selesai upacara pemberangkatan, kami langsung berjalan kaki menuju perempatan Kartasura menunggu bis jurusan stasiun Purwosari Solo. Bis ATMO menuju purwosari dipenuhi kami dan barang-barang kami.
Pukul 14.30 wib
Kami sudah sampai di stasiun Purwosari dan membeli karcis Logawa jurusan Purwokerto seharga 26 ribu rupiah. Menunggu kereta yang dijadwalkan pukul 14.30 berangkat, ternyata ada pengumuman dari stasiun bahwa jadwal mundur 30 menit. sambil menunggu kereta kami berfoto dulu di sekitar stasiun.


Pukul 15.20 wib
Kereta Logawa tiba pukul 15.17 wib dan berangkat pukul 15.20 wib. Kami menaiki gerbong terakhir dan dapat tempat duduk semua. kereta melaju dengan pelan menuju barat. penulis dan rombongan pendaki berbuka puasa di pemberhentian stasiun Prembun pukul 17.50 wib. Dua jam kemudian, kereta Logawa sudah tiba di stasiun Purwokerto. Semua penumpang turun karena kereta ini pemberhentian terakhirnya di stasiun Purwokerto. Kami keluar dari stasiun dan menunggu jemputan dari rekan-rekan KMPA FAKTAPALA STAIN Purwokerto. setelah menunggu 10 menit, rekan-rekan FAKTA datang dan langsung membawa kami dengan sepeda motor masing-masing menuju “gerbong” FAKTA.
Pukul 20.20 wib
Rombongan dari Solo sudah tiba di “gerbong” FAKTA, ramah tamah dengan tuan rumah, sholat dan istirahat satu setengah jam kemudian. Zzzz... Zzzz... 
Sabtu, 06 agustus 2011
Pukul 03.45 wib
Bangun tidur langsung sahur dengan menu sayur daun pepaya dan tempe goreng, dilanjutkan dengan minum kopi sampai tiba waktu Imsak pukul 04.30 wib. Setelah itu sholat Subuh dan briefing untuk pendakian hari pertama. Rencana pendakian 3 hari 2 malam lewat jalur Baturraden dan turun lewat Guci. Jadi, kami memilih lintas jalur agar bisa berendam air panas di Guci nanti setelah turun gunung.
Pukul 06.00  wib
Selesai briefing. Pendakian akan dimulai jam 10.00 wib dari “gerbong” FAKTAPALA. Leader yang bertugas memimpin perjalanan dan menentukan pemberhentian serta menentukan titik akhir untuk pendakian hari pertama adalah penulis sendiri (Xentroup), mobiling yang bertugas menjembatani komunikasi antara leader dan Sweeper dipegang Show-ex, sedangkan sweeper yang bertugas “menyapu” rombongan dipegang Cho-doet. Pendamping dari SPECTA, PASCAL, dan FAKTA menjadi tim back up kami. Rencana titik akhir pendakian pertama di pos III setengah atau Camp Tentara yang menurut data yang kami peroleh terdapat sumber airnya. Setelah peserta brifing menyetujui peran-peran di atas, lalu dilanjutkan dengan tidur pagi karena waktu masih panjang menjelang berangkat.
Pukul 09.15 wib
Kami mulai bangun semua dan packing ulang barang-barang kami dengan santai sambil menunggu pemandu dari FAKTA (Balunk) datang.
Pukul 10.30 wib
Semua telah selesai packing termasuk Balunk (FAKTA). Angkutan yang akan mengantarkan kita pun sudah menunggu di depan “gerbong”. Setelah selesai menata semua carrier di atas angkutan, berfoto-foto dengan rekan-rekan FAKTA dan berdo’a bersama, kami pun berangkat menuju kawasan wisata Baturraden. Angkutan kami carter seharga Rp. 60.000,-.


Pukul 11.10 wib
Angkutan tiba di kawasan wisata Baturraden, biasanya langsung masuk dan berhenti di titik start pendakian, namun kali ini sopir angkutan hanya mengantarkan kami sampai pintu masuk kawasan wisata. Setelah tawar-menawar dengan penjaga pintu masuk, akhirnya kami sepakat membayar Rp 50.000,- untuk memasuki kawasan wisata Baturraden. Lima menit kemudian kami langsung tancap gas mendaki jalan beraspal menuju titik start pendakian Baturraden. andaikan angkutan langsung menuju titik start pendakian, maka hanya angkutannya saja yang dikenai biaya masuk kawasan wisata ini sebesar Rp 10.000,-, jadi bisa lebih irit empat puluh ribu...hehe 
berpose dulu di depan pintu masuk kawasan wisata Baturraden


Pukul 12.30 wib
Kami sampai di titik start pendakian dengan tanda pal 2 A di kanan jalan sebelum menuju pemandian air panas pancuran 7. Semua beristirahat dulu memulihkan nafas yang mulai tidak teratur sementara penulis kembali packing karena sepatu pdl yang dipakai sudah tidak nyaman dan menggantinya dengan sandal jepit karet. Lima belas menit kemudian, kami mulai berjalan lagi menuju pos I untuk mengisi air di aliran sungai kecil yang mengalir memisahkan jalur sebelum pos I. air di sini lumayan jernih padahal musim kemarau sedang melanda. 
PAL 2 A, sebelah kanan jalan aspal

Tanda PAL 2 A, sebelah kanan jalan menuju pancuran pitu / 7
Pukul 13.20 wib
Tiba di pos I dan istirahat setelah sebelumnya kami mengisi air di sungai. Sepuluh menit kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju pos II. jalanan masih agak landai dan bervariasi.
Aliran air pos I

Pukul 14.00 wib
Kami sampai di medan agak datar setelah sebelumnya hanya berisi tanjakan-tanjakan dan beristirahat di dekat bivak alam. Pos II masih jauh di depan kami karena jarak antara pos I dengan pos II adalah jarak terjauh dan terpanjang di jalur Baturraden ini. dua jam kemudian, akhirnya kami tiba di Pos II (Samhyang Pacet) dan penulis selaku leader hari ini memutuskan untuk mendirikan tenda di sini. Karena menurut perhitungan, sumber air di sini cukup banyak. Semua peserta pendakian langsung sibuk dengan tugas masing-masing yang telah dibagi pada briefing malam sebelumnya. Shu-neo, Phen-chenk, dan Mantoel langsung mendirikan tenda-tenda dome, sementara penulis, Show-ex, Tell-me, dan Cho-doet dipandu oleh Balunk mencari sumber air dengan berjalan ke arah pos III sekitar 10 meter dan belok kanan di percabangan. Jalan menuju sumber air menurun agak curam. Ternyata sungai tidak mengalir namun masih ada genangan-genangan air yang cukup bersih sehingga layak untuk diminum dan dimasak. Setelah mendapatkan air kami kembali ke pos II dan membantu yang lainnya mencari kayu, memasak, mendirikan dome dan membuat api unggun.
Setelah itu penulis menjama’ shalat Dhuhur dan Ashar. Membuat api unggun di sini cukup sulit karena kayu yang terbakar langsung menjadi abu.
sumber air (kali) di pos II Baturraden

empat tenda dome 4p sepertinya muat untuk pos II ini
 Pukul 19.00 wib
Selesai menjama’ shalat Maghrib dan Isya’, briefing lagi untuk evaluasi pendakian hari pertama sekaligus merencanakan pendakian hari kedua.
Pukul 19.55 wib
Selesai briefing, leader untuk hari kedua Cho-doet, mobiling dipegang Phen-chenk, sedangkan sweeper diperankan Mbolor. Target untuk hari kedua harus sampai di Plawangan sebelum jam 16.00 wib. Rencana pendakian dimulai pukul 06.00 wib besok pagi.
Pukul 21.00 wib
Satu-persatu memasuki tenda masing-masing dan istirahat guna memulihkan tenaga untuk esok hari, karena medan dari pos II sampai Plawangan sangat sulit dilalui.
Minggu, 07 Agustus 2011
04.15 wib
Bangun dari tidur karena mendengar suara alarm dari hape, membangunkan Shu-neo, Tell-me dan Mbolor. Langsung merapikan sleeping bag, lalu keluar dari tenda disambut dinginnya udara di pos II. Kami langsung berusaha menyalakan api unggun yang sudah padam dan merubuhkan tenda yang sudah tidak dipakai lagi.
Pukul 05.00 wib
Usai shalat Subuh, dilanjutkan dengan menghangatkan diri di perapian sambil menunggu yang lain bangun dan tim masak menanak nasi. sejam kemudian, sarapan sudah siap disantap dan mulai packing kembali. Menu pagi itu nasi, mie, sosis, dan teh hangat.
Pukul 07.25 wib
Semua peserta pendakian sudah siap dan langsung berjalan lagi menuju Plawangan, batas vegetasi terakhir di jalur Baturraden ini. dari pos II menuju pos III dibutuhkan 80 menit dengan berjalan kaki. medan berisi tanjakan melulu T_T setelah sampai di pos III, kami beristirahat dulu 30 menit sambil poto-poto dan lanjut jalan menuju pos III setengah atau Camp tentara.
Pos III setengah / Camp Tentara
sumber air di Camp Tentara

Pukul 10.22 wib
Tiba di pos III setengah atau Camp Tentara yang ditandai pohon besar tumbang di kiri jalur. Makan siang di sini dan mengambil air di cerukan yang agak dalam. lokasi air di sebelah kiri jalur pendakian. Air di sini biasanya lumayan banyak dan bersih namun saat ini hanya ada genangan air yang sedikit dan kotor. Kami menyaringnya dulu dan memasukkannya ke dalam jerigen 5 liter untuk persiapan jalan menuju Plawangan. Menurut rekomendasi Balunk, di Plawangan terdapat air di celah-celah batu sekitar daerah tersebut. Kami masih bersantai di Camp Tentara agak lama setelah tenaga terbuang banyak karena sangat curamnya jalur. Penulis pribadi menyebut jalur ini jalur “bajingan”. :D
Selamat, anda telah berhasil latihan merayap :p
Pukul 13.10 wib
Tiba di pos IV dengan ditandai pohon besar di kanan jalan. Vegetasi di sini dipenuhi oleh lumut jenggot. Istirahat 20 menit karena trek dari Camp Tentara tidak jauh berbeda dengan trek dari pos III ke Camp Tentara. Setelah pos IV, vegetasi sudah mulai jarang namun kami dihadang oleh pohon-pohon yang tumbang sehingga memaksa kami untuk merayap bak tentara. Benar-benar melelahkan.
Lumut Jenggot Sodaraaa....

Pukul 16.30 wib
Kami semua sudah berada di Plawangan. Dari sini, pemandangan di sekitar terlihat indah sekali. Istirahat sebentar, mendirikan dome, mencari kayu. Dan masalah pun timbul dari sini ketika air yang biasanya ada di celah-celah batu ternyata tidak ada karena sudah lama tidak ada hujan disertai teriknya matahari akhir-akhir ini. Setelah menikmati indahnya sunset kami pun langsung makan seadanya dan briefing. Persediaan air hanya tinggal kurang lebih 3 liter. masak nasi dibatalkan... :p
Senja yang indah bukan?
 Pukul 20.00 wib
Briefing telah selesai. Kami telah sepakat untuk melanjutkan pendakian sampai puncak Slamet dan langsung turun lewat jalur Guci pagi-pagi sekali supaya tidak terlalu haus ketika summit attack ke puncak. Air yang ada harus kami gunakan secukupnya yaitu hanya minum ketika tenggorokan benar-benar kering, itu pun dengan ukuran dua kali tutup botol air mineral. Penulis masih berkemas dan diskusi ringan dengan sejawat Shu-neo dan sejawat Tell-me tentang rencana besok pagi. Sebelum tidur sejawat Balunk telah berpesan kepada kami untuk membiarkan api unggun tetap menyala agar saat bangun kami bisa langsung menghangatkan badan. Tak lama setelah kami bertiga masuk tenda terdengar bunyi kretek…kretek…ternyata api membesar dan merembet hampir ke tenda Sogol. Tell-me dan Shu-neo langsung bertindak cepat memadamkan api, namun api terlalu besar sehingga mereka butuh bantuan. Mbolor terbangun dan langsung berlari untuk membantu memadamkan api yang masih saja besar. Penulis pun akhirnya keluar dari sleeping bag dan tenda lalu berlari menuju api di sebelah selatan yang terdapat banyak kayu lamtoro kering untuk memadamkan api yang terus menjalar. Tak lama api pun sudah kembali kecil. Akhirnya kami berinisiatif untuk memadamkan api dan bara yang masih menyala supaya tidak terjadi kebakaran yang tidak diinginkan. Setelah itu, semua kembali ke tenda masing-masing dan melanjutkan tidur. Besok adalah hari terpanjang yang akan kami lewati.  
Senin, 08 Agustus 2011
Pukul 03.00 wib
Penulis terbangun oleh suara alarm dan membangunkan yang lainnya agar packing dan bersiap-siap summit attack.
Pukul 04.36 wib
Kami semua sudah siap dan segera berangkat untuk summit attack, tak lupa berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar kami diberi kekuatan, kesabaran, dan keselamatan.
Medan di depan kami hanya pasir berkerikil dan batu granit. Sangat berbeda dengan medan sebelumnya. Pun agak berbeda dengan pasir di gunung Semeru. Keuntungan kami adalah tidak adanya angin kencang. Cuaca dini hari benar-benar cerah. Satu-persatu berjalan beriringan dengan membawa penerang di tangan dan kepala masing-masing. Medan ini harus didaki dengan langkah kecil stabil dan jangan terlalu lama beristirahat.
Pukul 06.30 wib
Alhamdulillah, kami semua akhirnya sampai di puncak jalur Baturraden.
Pukul 07.00 wib
Tiba di puncak Tugu Surono, kami mengabadikan momen penting ini bersama bendera SPECTA dan angkatan MOKSA RAVINE. Minum air secukupnya dan makan menu yang ditunggu-tunggu, cocktail. Benar-benar sangat berkesan.
Puncak Batu Tugu Surono
Pukul 08.05 wib
Setelah puas berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan ke arah timur dengan memutari kaldera kawah puncak Slamet untuk turun lewat jalur Guci. Lima puluh menit kemudian kami sampai di puncak jalur Guci, istirahat sebentar dan langsung meluncur turun. Awal meluncur serasa menuruni puncak Mahameru, namun setelah 100 meter, medan hampir sama dengan jalur Baturraden, penuh dengan kerikil dan batu granit. Matahari sudah meninggi dan panasnya terasa mengikis air di tubuh. Tubuh serasa dehidrasi, penulis segera menuruni jalur pasir dengan cepat supaya tidak terlalu haus.
Pukul 10.00 wib
Sampai di pos V Guci (Pondok Cantigi). Istirahat 10 menit dan kembali berjalan menuju pos IV Guci.
Pukul 10.20 wib
Tiba di pos IV. Istirahat lagi dan berbagi air dengan yang lain. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan turun.
Pukul 10.40 wib
Tiba di pos III, tim pertama mencari air dan ternyata sumber di sini juga kering. Tanda yang terdapat di sini pos IV bukan pos III. Menurut Balunk tanda itu salah.
Pukul 11.15 wib
Penulis, Ghembonk, Sogol, Mbolor, Cho-doet, Tell-me, Le-bhay, Phen-chenk, Shu-neo dan Bolot tiba di pos II. Sementara balunk, Show-ex dan Mantoel terus berjalan di depan untuk mencari carteran angkutan turun ke “gerbong” FAKTA. Kami membuka peta AMS fotokopian dari KMPA FAKTAPALA, mencari tahu posisi kami sesungguhnya karena tanda pos di sini terasa janggal. Tanda pada tulisan yang tertancap di pohon tertulis pos III, namun sebenarnya pos II. Ketinggian sekitar 2000an mdpl. Titik air yang terdapat di peta hanya ada di pos I atau ladang. Masih 2 karvak peta AMS yang harus kami lalui untuk sampai di titik air. Itu pun dengan disertai harapan sumber air yang ada tidak kering seperti di pos III. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan yang masih sekitar 2 jam lagi untuk sampai di pintu jalur Guci. Penulis terus berlarian dengan Phen-chenk menuruni jalan landai meninggalkan yang lainnya dan berhenti di pos I untuk buang air. Tidak lama menyusul Ghembonk dan Mbolor. Akhirnya Phen-chenk meninggalkan penulis yang tiba-tiba merasakan sakit di perut bagian kanan bawah. Penulis terus berjalan pelan dengan Ghembonk dan Mbolor. Waktu terasa sangat panjang, pun jalan yang kami lalui terasa tak berujung hingga akhirnya kami bertiga menjumpai tiga orang penebang kayu, kami bertanya kepada mereka tentang waktu yang harus kami tempuh untuk sampai di Guci dan letak sumber air.
Pukul 14.00 wib
Kami sampai di ladang karet dan bertemu Phen-chenk yang sudah memegang botol penuh air di tangannya. Tak banyak tanya langsung kita sikat habis minuman tersebut. Penulis dan Phen-chenk kembali mengambilnya di sungai dengan lebar sekitar 2-3 meter yang berada di sebelah kiri jalan. Ternyata sungai itu juga kering dan hanya terdapat genangan air di batu pipih besar. Air yang kami minum tadi dari genangan ini juga dan tetap terasa sejuk meski penuh dengan benih nyamuk :$ . Setelah mengambil air kami berkumpul di pertigaan yang menuju ladang menunggu yang lain tiba.
Pukul 15.00 wib
Akhirnya kami bersepuluh tiba di pintu jalur pendakian Guci. Balunk, Show-ex dan Mantoel sudah menunggu di area pemandian air hangat Guci. Dan setelah mengabadikan gambar di Guci, kami langsung masuk ke pemandian air panas Guci yang terkenal dengan Pancuran Tiga Belas-nya.
Pukul 16.20 wib
Kami semua telah selesai mandi air panas di Guci dan tinggal menunggu angkutan yang sudah di carter di depan deretan warung-warung area wisata pemandian.
Pukul 17.00 wib
Angkutan sudah datang dan kami langsung berangkat menuju “gerbong” FAKTA melalui Tegal, Pemalang, arah jalur Bambangan, Purbalingga dan Baturraden. Kami mencarter angkutan seharga 200 ribu rupiah.
Pukul 19.45 wib
Angkutan tiba di “gerbong” FAKTA. Satu-persatu turun dari angkutan dan membawa rucksack masing-masing. Sebagian beristirahat dan sebagian lain begadang dengan rekan-rekan dari FAKTA sampai waktu sahur tiba.
Selasa, 09 Agustus 2011
Setelah sahur dan shalat Subuh bersama Bolot dilanjutkan dengan tidur.
Pukul 11.45 wib
Rombongan dari Solo mengadakan briefing kepulangan. Semua sepakat untuk pulang besok, Rabu pagi pukul 05.00 wib dengan menaiki kereta Logawa seharga 26 ribu rupiah yang bisa dipastikan dapat tempat duduk.
Pukul 12.18 wib
Briefing telah selesai, lalu shalat Dhuhur, nonton tv dan tidur lagi.
Pukul 16.04 wib
Bangun tidur, shalat Asar dan ngabuburit di “gerbong” FAKTA.
Pukul 17.49 wib
Buka bersama di timur “gerbong” FAKTA dengan menu sayur sop dan tempe goreng. Dilanjutkan dengan shalat Maghrib dengan Bolot.
Pukul 19.50 wib
Bersama Kalenk naik motor main ke kost-an teman kenalan waktu ke Semeru Juli 2010 di belakang UNSOED.
Pukul 22.15 wib
Balik ke “gerbong” FAKTA dan tukar cerita dengan rekan-rekan FAKTA.
Pukul 22.30 wib
Aksi “pijat sarung” oleh Corela dan Kalenk. Benar-benar tak terlupakan.
Tukar cerita pendakian dan misteri-misteri yang meliputinya sampai tiba waktu sahur.
Rabu, 10 Agustus 2011
pukul 04.20 wib
Selesai sahur, shalat Subuh dan langsung packing untuk pulang.
Pukul 05.30 wib
Rombongan dari Solo sudah sampai di stasiun Purwokerto dengan diantar rekan-rekan KMPA FAKTAPALA. Setelah membeli tiket kami berjabat tangan satu-persatu mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa di lain kesempatan. Kereta Logawa berangkat pukul 06.00 pagi.
Pukul 10.10 wib
Logawa berhenti di stasiun Purwosari. Saatnya kami turun dari kereta dan mencari bis jurusan Kartasura. Setengah jam kemudian kami sudah berada di Base Camp SPECTA setelah berjalan dari lampu merah Kartasura.
Demikianlah akhir dari perjalanan pendakian ke Slamet via Baturraden-Guci. Semoga Bermanfaat :)




1 komentar:

  1. Tendaku dan mr.camp dan aras juga merentalkan tenda dome, tenda kemping dan alat kemping lainnya : sepatu trekking, kompor gas windproof, rangsel, kasur, tenda dome vip , rangsel kualitas bagus merek drone, kompor gas portable, dll. Kami dapat menyediakan sampai RATUSAN TENDA DOME dgn ukuran : 1,9 x 1,9m x t 1,4m, 2x2mx t 1,4m, 2,4x2,4mx t 1,4m, 2,5x2,5mx t 2,1m, 3,5x2,5mx t 1,8m, 3x4mx t 1,8m, 3,2x4,5mx t 1,9m. Kami ada di bandung, bogor, tapos, ciawi Tendaku di jln siliwangi no.55 yg ke arah ITB. Website: http://www.tendaku.net, 022 2035640, 02293592599, pin bb : 57c2d833, wa 0817 230 8338. Mr.camp di bogor, tapos, ciawi 0251 9108201, 085888959949, Website: http://www.mrcamp.net, thx

    Utk rental sepeda di my bike, bandung, www.rentalsepeda.com.

    BalasHapus